Surat panjang dari alam ini seharusnya menambahkan tiga bab penting dalam kesadaran kolektif kita:
Sumatera mungkin akan pulih, sebagaimana luka yang perlahan menutup. Tetapi akankah kita belajar? Pertanyaan itu harus dijawab bukan hanya oleh pemerintah, tetapi oleh setiap warga, setiap keluarga, setiap keputusan kecil yang kita ambil. Sebab bencana besar selalu lahir dari akumulasi kelalaian kecil yang kita anggap sepele.
Ketika alam menulis surat panjang, tugas kita bukan hanya membacanya. Tugas kita adalah membalasnya dengan tindakan: dengan hutan yang kembali hijau, sungai yang dibiarkan lebar, bukit yang dijaga akar, dan tata ruang yang tak dikhianati oleh keserakahan.
Jika surat ini tak kita jawab, mungkin alam akan menulis yang lebih keras, lebih pahit, dan lebih dalam. Dan pada saat itu, kata “maaf” mungkin sudah tak cukup lagi.***
