Laporan resmi USDA tahun 2024/2025 mengestimasi produksi beras Indonesia sebesar 34,6 juta ton, meningkat dari musim sebelumnya, menjadikan Indonesia negara dengan volume produksi beras tertinggi di Asia Tenggara.
Perum Bulog mencatat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) per Mei 2025 mencapai 3,9 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah Bulog.
Meski demikian, capaian luar biasa ini malah dituding sebagai akal-akalan. Debi menduga ada upaya sistematis membangun pesimisme publik melalui pemberitaan yang menyesatkan, yang diyakini sebagai taktik mafia pangan.
“Kalau sudah melawan data resmi BPS, USDA, dan Bulog, itu bukan jurnalisme profesional. Itu jurnalisme kepentingan!” tegas Debi.
Menurutnya, mafia pangan selama ini diuntungkan saat negara lemah. Kini, ketika produksi naik, stok berlimpah, dan celah impor makin tertutup, pihak-pihak yang selama ini bermain pun mulai panik.
Debi juga menilai aneh jika ada pihak yang mengaku pelaku atau pengamat pertanian, namun menolak Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp6.500/kg dan penghapusan rafaksi—dua kebijakan yang nyata menguntungkan petani. “Jangan-jangan mereka bukan bicara atas nama petani, tapi jadi corong para tengkulak dan importir,” tandasnya.
Ia menegaskan bahwa narasi pesimistis langsung terpatahkan oleh data resmi. Dengan data sekuat ini, sulit untuk membantah penguatan kedaulatan pangan Indonesia. “Maka wajar jika muncul pertanyaan: siapa yang terganggu oleh keberhasilan ini?”
Debi juga mengungkap bahwa Polri kini tengah memproses sekitar 20 calon tersangka mafia pangan, dan 50 perusahaan lainnya sedang dalam tahap penyelidikan.
